Pengertian Underpricing dan Overpricing Saham, serta Fenomena IPO

Pengertian Underpricing dan Overpricing Saham, serta Fenomena IPO

EDUSAHAM.COM — Dalam dunia investasi, terutama pada instrumen saham, mungkin Anda
pernah mendengar istilah saham yang mengalami underpriced dan overpriced.
Apa sih definisi atau pengertian underpricing dan overpricing? Bagaimana bisa terjadi fenomena underpricing dan overpricing pada saat IPO (Initial
Public Offering
)? Seperti apa contoh kasus underpricing dan overpricing? Nah, untuk menjawab
pertanyaan itu semua, berikut penjelasan selengkapnya.

Pengertian Underpricing
dan Overpricing Menurut Para Ahli

Menurut Hanafi (2004), jika
harga saham di pasar perdana memiliki nilai yang lebih rendah
dibandingkan harga saham di pasar sekunder, maka terjadilah fenomena underpricing.
Menurut Manurung (2013), jika
harga saham pada saat IPO lebih rendah dari harga saham penutupan di hari
pertama perdagangan, maka itulah yang disebut dengan underpricing.
Lalu, bagaimana pengertian overpricing? Sederhananya, overpricing adalah kebalikan dari underpricing, yaitu di mana harga saham
di pasar perdana memiliki value yang
lebih rendah jika dibandingkan dengan harga saham penutupan yang diperdagangkan
pertama kali di pasar sekunder.
Berdasarkan pengertian underpricing dan overpricing
di atas, maka dapat disimpulkan bahwa underpricing
dan overpricing adalah dua kondisi
yang berlawanan, dan ini biasanya terjadi ketika IPO (Initial Public Offering).
Pengertian dan pembahasan
mengenai IPO bisa Anda baca selengkapnya di sini: Ringkasan Pembahasan IPO.

Hubungan Underpricing
dan Overpricing dengan Fenomena pada
saat IPO

Setelah Anda memahami
mengenai pengertian underpricing dan overpricing,
di sini juga dijelaskan hubungan underpricing
dan overpricing dengan fenomena IPO.
Seperti yang telah disinggung
sebelumnya, bahwa underpricing dan overpricing merupakan implikasi atau
fenomena yang sering terjadi ketika IPO. Awalnya, perusahaan yang akan
melakukan IPO, terlebih dahulu melakukan penawaran harga saham di pasar
perdana.
Penentuan harga saham ketika
penawaran perdana sebenarnya dilakukan sesuai dengan kesepakatan dari emiten
(perusahaan) dan underwriter. Di sisi yang lain, harga saham yang terjadi
di pasar sekunder dihasilkan dari proses mekanisme pasar, atau berdasarkan
permintaan dan penawaran.
Ketika saham perusahaan
mengalami underpricing, maka itu akan
merugikan pihak perusahaan. Kenapa demikian? Karena perusahaan tidak bisa
memperoleh dana yang maksimal atas IPO tersebut. Terbukti, harga saham di pasar
perdana ternyata lebih rendah dari harga saham di pasar sekunder. Di sisi yang
lain, kondisi underpricing sangat
menguntungkan investor.
Begitu pun sebaliknya, jika
terjadi kondisi overpricing, maka
perusahaan beruntung karena ternyata nilai saham yang ditetapkan di pasar
perdana lebih tinggi dari harga saham di pasar sekunder. Kondisi ini tentu saja
merugikan investor.
Kondisi semacam ini
sebenarnya lumrah terjadi, bahkan ini juga terjadi pada pasar modal di negara
lainnya, seperti di Inggris, Amerika Serikat, China, Malaysia, dan sebagainya.
Meskipun begitu, fenomena underpricing
lebih sering terjadi saat fenomena IPO.
Lalu, apa yang menyebabkan
terjadinya underpricing? Di lain waktu kami akan membahas: Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi dan Menyebabkan Underpricing
Saham saat IPO
.

Contoh Kasus Underpricing
dan Overpricing pada Saham Perusahaan

Sebenarnya, banyak contoh perusahaan
yang mengalami underpricing dan overpricing. Meskipun begitu, penelitian
tentang underpricing lebih sering
dilakukan karena fenomena tersebut lebih menarik untuk dibahas. Kenapa bisa
menarik? Ya, kondisi ini merupakan cerminan “ketidakmampuan” perusahaan serta underwriter untuk memaksimalkan dana
tambahan dari kegiatan IPO.
Untuk melihat kasus dan
daftar perusahaan yang mengalami underpricing
dan overpricing, Anda bisa download
di sini: Daftar perusahaan yang Mengalami Underpricing dari tahun ke tahun.
Sebagai informasi tambahan,
kami akan memberikan contoh ilustrasi kasus perusahaan yang mengalami underpricing dan overpricing. Misalnya, PT ABC menetapkan harga saham di pasar
perdana dengan harga 500. Ketika transaksi saham dilakukan untuk pertama kali
di pasar sekunder, ternyata harga saham penutupan berada di angka 600. Itulah
yang disebut sebagai underpriced.
Namun, ketika harga saham penutupan bernilai 450, maka itulah yang disebut overpriced.
Bagaimana sobat? Apakah Anda
sudah cukup puas dengan informasi yang kami sajikan ini? Ya, itulah penjelasan
mengenai pengertian underpricing dan overpricing,
hubungannya dengan fenomena IPO, serta ilustrasi contoh kasus underpricing dan overpricing. Sekian informasi yang bisa kami sajikan, semoga
bermanfaat dan mohon di-share agar
bisa bermanfaat untuk orang banyak.

One thought on “Pengertian Underpricing dan Overpricing Saham, serta Fenomena IPO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *