Pengertian Saham Overvalued: Cara Menentukan & Menilai Saham Mahal

Gambar Pengertian Saham Overvalued
EDUSAHAM.COM — Di artikel sebelumnya, kami telah memberikan
penjelasan lengkap mengenai saham undervalued. Nah, di sini, kami akan melanjutkan
pembahasan mengenai saham overvalued.
Apa yang dimaksud dengan saham overvalued?
Lalu, bagaimana cara menentukan bahwa suatu sahan terindikasi overvalued? Untuk lebih jelas, berikut
penjelasannya.

Pengertian Saham Overvalued

Apa itu
saham overvalued? Sebenarnya, istilah
overvalued bisa dikaitkan dengan
suatu nilai atau harga yang berlebih atau mahal. Dengan kata lain, harga
tersebut berada di atas harga normal (wajar). Sedangkan saham adalah surat
berharga sebagai bukti kepemilikan terhadap suatu emiten. Jadi, pengertian
saham overvalued adalah surat
berharga yang memiliki nilai atau harga di atas harga wajarnya.
Jika ditanya
secara personal, apakah Anda mau membeli saham overvalued yang notabene memiliki nilai di atas harga normal? Dalam
pandangan ekonomis, pasti Anda tidak akan mau membeli saham jenis ini. Ya, tidak
ada orang yang mau rugi dengan membeli suatu aset di harga yang tinggi. Namun,
apakah aset dengan yang dibeli dengan harga tinggi selalu tidak menguntungkan?
Tidak!
Misalnya, ada
sebuah rumah type 45 yang memiliki harga jual wajar Rp 500 juta. Saat ini, Anda
pengin membeli rumah untuk investasi masa depan, dengan harapan bisa dijual lagi
ke depannya. Pertanyaannya, apakah Anda mau membeli rumah type 45 tersebut di harga
Rp 600 juta? Secara cepat, mungkin tidak, karena berada di atas harga wajar.
Namun, untuk menjawab hal ini, tentu ada beberapa pertimbangan.
Misalnya, apakah
lokasi rumah strategis? Apakah di kawasan rumah terdapat risiko bencana yang
tinggi? Apakah rumah butuh biaya perawatan yang besar? Pertimbangan semacam
itulah yang seharusnya Anda lakukan. Jika Anda dihadapkan dengan dua pilihan:
beli rumah Rp 500 juta yang berada di lokasi yang kurang strategis, atau beli
rumah Rp 600 juta yang berada di lokasi strategis? Pilih mana?
Nah,
begitu juga dengan saham. Ada faktor-faktor lain yang mesti dipertimbangkan
dalam membeli saham. Tidak serta-merta saham overvalued dianggap kurang menguntungkan. Begitu juga dengan saham undervalued yang tidak selalu memiliki
potensi yang baik di masa depan.

Prinsip Saham Overvalued

Seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya bahwa tidak selalu saham overvalued dianggap buruk atau tidak potensial. Memang, secara
teoretis, ada dua indikasi mengenai saham overvalued.
Pertama, ada pandangan bahwa saham overvalued
terlalu mahal untuk dibeli karena pada akhirnya saham tersebut akan bergerak
menuju nilai wajarnya. Jadi, potensi keuntungan relatif kecil.
Pandangan
kedua menyatakan bahwa saham overvalued
mengindikasikan bahwa pasar (market)
menganggap perusahaan tersebut layak dihargai dengan nilai tinggi atau layak
berada di atas harga wajarnya. Hal ini juga memperlihatkan bahwa adanya mosi kepercayaan
dari pasar terhadap saham perusahaan. Dengan demikian, tentu saja ada
faktor-faktor lain yang membuat pasar percaya terhadap perusahaan tersebut.
Seperti yang
kami katakan sebelumnya, saham overvalued
tidak selalu buruk. Begitu pun juga dengan saham undervalued yang tidak selalu potensial. Itulah pentingnya meninjau
lebih jauh mengenai saham perusahaan, jangan hanya menggunakan satu variabel
atau parameter saja untuk menilai saham perusahaan secara menyeluruh, tidak fair.

Rumus dan Cara Menentukan Saham Overvalued

Cara Menentukan Saham Overvalued dan Undervalued



Secara umum,
mungkin Anda sudah paham apa yang dimaksud dengan saham overvalued. Nah, untuk
selanjutnya, berikut rumus dan cara menilai apakah suatu saham overvalued atau tidak. Ada beberapa
parameter yang paling umum dipakai untuk menentukan saham overvalued, salah satunya yaitu Price
to Book Valued
(PBV) Ratio. Mencari
rumus PBV sangat simpel, Anda bisa membandingkan harga saham (stock price) dengan nilai buku (book value) perusahaan.

Rumus PBV = Harga Saham / Nilai Buku

Berdasarkan
rasio PBV ini, maka cara menilai atau menentukan suatu saham overvalued atau tidak yaitu jika nilai
PBV saham emiten lebih besar dari 1 (> 1), maka itu disebut saham overvalued. Sebaliknya, jika lebih kecil
dari 1 (< 1), maka itu disebut saham undervalued.
Salah satu
cara yang paling umum dipakai untuk membandingkan saham mana yang overvalued adalah dengan perbandingan
pada masing-masing sektor saham. Misalnya, Anda pengin berinvestasi di saham sektor barang konsumsi. Nah, Anda bisa membandingkan setiap
saham di dalam sektor tersebut; mana yang memiliki nilai PBV paling besar.
Bagaimana
jika ada beberapa saham yang memiliki nilai PBV sama besar, anggaplah ada empat
(4) perusahaan di sektor barang konsumsi yang memiliki nilai PBV tertinggi
dengan nilai rasio 3,5. Lalu, bagaimana menentukan salah satu saham yang paling
mahal di antara keempat saham perusahaan tersebut? Nah, Anda bisa menggunakan parameter atau indikator lain, yaitu Price to Earnings Ratio (PER).
Secara
sederhana, rasio PER dihasilkan dari perbandingan antara harga saham dengan
laba per lembar saham (earnings per share).

Rumus PER = Harga Saham / Laba Per Lembar
Saham

Dari sudut pandang
rasio PER, maka suatu saham dianggap mahal (overvalued)
jika memiliki nilai PER lebih besar dari 15 (> 15). Jika nilai PER
perusahaan lebih kecil dari 10 (< 10), maka dianggap undervalued. Kemudian, jika suatu saham memiliki nilai PER antara
10 – 15, maka dianggap bernilai wajar (fairvalue).
Nah,
setelah mencari nilai PER dari keempat perusahaan tersebut, ternyata ada satu
perusahaan dengan nilai PER tertinggi, yaitu bernilai 17. Dengan demikian,
secara singkat, Anda bisa menganggap bahwa perusahaan tersebut yang paling overvalued di sektor barang konsumsi.

Kesimpulan tentang Saham Overvalued

Jika diukur
dengan dua parameter di atas, PBV dan PER, maka perusahaan dengan nilai rasio
PBV dan PER tertinggi bisa dianggap sebagai saham overvalued. Meskipun begitu, ada baiknya Anda menelusuri lebih
lanjut apa yang menyebabkan saham tersebut overvalued.
Percaya atau tidak, ada perusahaan yang dianggap overvalued, tetapi menarik bagi investor. Artinya, ada faktor-faktor
lain yang memengaruhi.
Begitu pun
sebaliknya, ada saham undervalued
dengan nilai PBV dan PER yang rendah, tapi tidak diminati oleh investor. Seperti
yang kami jelaskan di artikel sebelumnya tentang saham undervalued, bahwa ada beberapa hal yang membuat saham overvalued tetap terlihat menarik. Pertama,
saham overvalued tersebut memiliki
kinerja yang baik secara fundamental, memiliki prospek bisnis yang cerah di
masa depan, dan sudah memiliki brand
di masyarakat.
Jadi
intinya, jika Anda ingin mengambil keputusan investasi, dua variabel ini, PBV
dan PER, bisa Anda pakai sebagai bahan pertimbangan untuk mencari saham murah
atau mahal. Namun, lebih bijak lagi jika Anda mempertimbangkan variabel lain.
Dengan
demikian, Anda bisa menghasilkan keputusan investasi terbaik sehingga bisa
memaksimalkan keuntungan dari saham
dan meminimalkan risiko saham.
Bagaimana, apakah Anda puas dengan penjelasan tentang saham overvalued ini? Jika Anda puas, mohon bantuannya
untuk men-share, ya, agar semakin
banyak orang yang ketularan manfaat. Terima kasih atas perhatiannya. Semoga
sukses!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *