Laporan Keuangan + Rasio Keuangan Bank Syariah (2013 - 2017)

Pengertian Return on Asset (ROA): Rumus, Fungsi, dan Contoh Soal

Return on Asset Adalah

EDUSAHAM.COM --- Salah satu rasio keuangan yang paling umum digunakan sebagai variabel penelitian adalah rasio return on asset (ROA). Tidak hanya itu, rasio ini juga sering digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi. Apa itu return on asset (ROA)?

(Baca juga: Pengertian DER: Rumus, Fungsi, dan Cara Menganalisis)

Di sini, tim edusaham akan menyajikan secara lengkap mengenai ROA, mulai dari pengertian, rumus, fungsi, kelebihan dan kekurangan, contoh soal, hingga penyebab ROA menurun. Oleh karena itu, pastikan Anda membaca artikel ini sampai akhir, ya.

Definisi & Pengertian ROA (Return on Asset) secara Umum

Apa itu return on asset? Secara umum, pengertian return on asset adalah hasil perbandingan antara laba bersih (earnings after tax) perusahaan dengan total aset yang dimilikinya.

ROA atau return on asset adalah salah satu jenis rasio profitabilitas, yang dalam pengukurannya digunakan untuk menilai seberapa baik kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari pemanfaatan aset yang dimilikinya.

Dengan kata lain, semakin baik (tinggi) nilai return on asset (ROA) suatu perusahaan, semakin baik pula kinerjanya dalam menghasilkan laba bersih. Laba bersih yang dimaksud di sini adalah laba setelah pajak (earnings after tax) atau di dalam laporan keuangan sering juga disebut sebagai laba tahun berjalan (Profit for the Period).

Sedangkan total aset (aktiva) yang dimaksud di sini adalah semua harta yang dimiliki perusahaan, baik yang berasal dari modal sendiri (equity) maupun dari modal eksternal perusahaan, seperti utang (debt).

Tujuan utama perusahaan dalam menjalankan aktivitas bisnis adalah untuk mendapatkan profit atau keuntungan. Begitu juga dengan investor dan pemegang saham, tujuan mereka menanamkan modal (berinvestasi) ke suatu perusahaan adalah untuk memperoleh keuntungan. Jadi, ada dua cita-cita yang sama antara perusahaan dan pemodal.

Nah, untuk menilai kinerja perusahaan dalam mengonversikan aset yang dimilikinya menjadi laba (profit), maka pemodal (investor) dapat mengukur berdasarkan nilai rasio return on asset (ROA) perusahaan. Ini adalah salah satu cara yang umum digunakan.

Sebenarnya, return on asset (ROA) juga dapat dikaitkan dengan imbal hasil investasi dari suatu perusahaan, atau disebut juga dengan return on investment (ROI). Kenapa demikian? Karena sumber daya terbesar perusahaan adalah aset yang dimilikinya.

Jadi, pengukuran terhadap aset tersebut dapat dilihat dari kemampuan perusahaan dalam meraih laba (profit). Dengan kata lain, itulah hasil dari investasi perusahaan.

Jadi, bagi masyarakat pemodal yang ingin berinvestasi, misalnya di pasar modal, seperti di instrumen investasi saham, maka Anda bisa menjadikan return on asset (ROA) sebagai alat analisis untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Anda bisa membandingkan nilai ROA setiap perusahaan di sektor industri yang sama: mana yang lebih baik (tinggi) nilainya? Maka, Anda bisa memilih perusahaan dengan ROA tertinggi.

Definisi & Pengertian ROA (Return on Asset) Menurut Para Ahli

Selain memahami pengertian return on asset (ROA) secara umum, berikut ada pula beberapa pandangan dari para ahli mengenai definisi return on asset (ROA).

Definisi ROA Menurut Kasmir (2014)
Kasmir (2014) berpandangan bahwa return on asset adalah rasio keuangan yang menunjukkan imbal hasil atas penggunaan aktiva perusahaan.

Definisi ROA Menurut Tandelilin (2010)
Pengertian return on asset adalah suatu rasio yang menggambarkan sejauh mana kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan semua aset (aktiva) yang dimilikinya untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak.

Definisi ROA Menurut Fahmi (2014)
Pengertian return on asset adalah suatu alat ukur yang digunakan untuk menilai sejauh mana modal investasi yang ditanamkan mampu menghasilkan laba yang sesuai dengan harapan investasi.

Definisi ROA Menurut Sawir (2005)
Pengertian return on asset adalah rasio keuangan yang digunakan sebagai alat analisis untuk mengukur kinerja manajemen perusahaan dalam mendapatkan laba secara menyeluruh. Semakin tinggi (besar) nilai ROA suatu perusahaan, semakin baik efektif perusahaan dalam menggunakan aset.

Definisi ROA Menurut Horne & Wachowicz (2005)
Pengertian return on asset adalah alat ukur untuk menilai tingkat efektivitas suatu perusahaan dalam menghasilkan laba bersih melalui aset (aktiva) yang tersedia.

Perhitungan dan Rumus ROA (Return on Asset)

Bagaimana cara mengukur atau menghitung nilai return on asset (ROA)? Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa return on asset adalah perbandingan antara laba bersih perusahaan dengan total aset yang dimilikinya. Untuk lebih jelas, berikut rumus ROA (return on asset).
ROA = (Laba Bersih setelah Pajak / Total Aset Perusahaan) x 100%

Begitu sederhana rumus ROA, bukan? Nah, laba bersih setelah pajak juga dapat disebut sebagai laba tahun berjalan. Untuk mendapatkan laba tahun berjalan, maka Anda harus mencari terlebih dahulu laba kotor perusahaan. Berikut rumus laba kotor (gross profit):
Laba Kotor = Penjualan / HPP

Setelah mendapatkan nilai laba kotor (gross profit) perusahaan, kemudian Anda bisa mengurangi laba kotor dengan semua beban/biaya perusahaan, termasuk beban penghasilan pajak. Setelah itu, maka berulah diperoleh laba tahun berjalan. Berikut contoh laporan keuangan perusahaan yang menampilkan cara mencari laba bersih tahun berjalan perusahaan.

Contoh Laporan Keuangan Tahunan (Annual Report) Perusahaan Tbk
Contoh Laporan Keuangan Perusahaan Tbk

Seperti yang dijelaskan sebelumnya pada bab pengertian return on asset bahwa perusahaan dengan nilai rasio ROA yang baik (besar) adalah perusahaan yang efektif dalam menggunakan aset untuk mendapatkan laba.

Begitu pun sebaliknya, perusahaan dengan nilai ROA yang rendah (kecil), menunjukkan ketidakmampuan perusahaan dalam memanfaatkan aset secara efektif untuk memperoleh laba.

Fungsi ROA (Return on Asset)

Secara umum, ada beberapa fungsi return on asset (ROA) yang sangat penting untuk dipahami, yaitu sebagai berikut.

  • Secara prinsip, return on asset (ROA) memiliki kegunaan atau berfungsi untuk menganalisis efisiensi penggunaan modal dari perusahaan, baik untuk efisiensi produksi maupun penjualan.
  • ROA dapat dijadikan sebagai pembanding antar perusahaan dengan sektor industri yang sama, dengan tujuan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan aset yang dimiliki untuk memperoleh laba bersih. Dengan demikian, maka akan ditemukan perusahaan mana yang paling tinggi dan paling rendah nilai return on asset-nya.
  • Return on asset (ROA) juga dapat dipakai untuk mengukur tingkat efisiensi dan efektivitas divisi manajemen perusahaan. Dengan demikian, maka akan terlihat divisi mana yang mampu memberikan tingkat return paling tinggi. Ini adalah bagian penting dan tentu saja bisa menjadi bahan evaluasi bagi manajemen perusahaan.
  • Return on asset (ROA) bisa juga dipakai sebagai alat ukur untuk setiap produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Maksudnya, berapa biaya dan modal dikeluarkan untuk menciptakan produk tersebut, kemudian dapat dilihat seberapa besar tingkat profitabilitas dari setiap produk yang dihasilkan. Di sinilah manajemen perusahaan bisa mengevaluasi produk mana yang kurang menguntungkan dan yang profitable.
  • Return on asset (ROA) berfungsi sebagai salah satu indikator dalam pengambilan keputusan investasi bagi investor. Perusahaan dengan nilai rasio ROA yang besar, pasti akan lebih menarik bagi investor sehingga investor mau untuk menanamkan modalnya di perusahaan.
  • Selain investor, return on asset (ROA) juga bisa digunakan oleh perusahaan dalam pengambilan keputusan ekspansi. Biasanya, jika nilai rasio ROA perusahaan memuaskan atau mencapai target, bahkan lebih, maka potensi perusahaan untuk mengembangkan bisnis jauh lebih besar. Ini adalah bagian dari peran penting ROA.

Kelebihan dan Kekurangan ROA (Return on Asset)

Rasio return on asset (ROA) memiliki sejumlah kelebihan dan juga kekurangan. Untuk bagian pertama, berikut tim edusaham sajikan kelebihan (keunggulan) rasio ROA, yaitu sebagai berikut.
  • Perhitungan dengan rumus ROA cenderung mudah dipahami. Jadi, itu memungkinkan setiap orang bisa menganalisis rasio return on asset.
  • Manajemen perusahaan dapat mendorong perolehan laba secara maksimal dengan menganalisis rasio return on asset (ROA) perusahaan.
  • Dapat dijadikan sebagai alat ukur prestasi manajemen perusahaan, terutama dalam menghasilkan laba bersih.
  • Dapat dijadikan sebagai alat evaluasi atas kinerja perusahaan beserta dengan kebijakan manajemen.
  • Dapat dijadikan sebagai pembanding dengan perusahaan lain dalam satu sektor industri, terutama dalam hal kemampuan memanfaatkan aset dan memperoleh laba.
  • Dapat dijadikan sebagai alat kontrol manajemen perusahaan, terutama dalam hal profitabilitas.

Meskipun memiliki sejumlah kelebihan, return on asset (ROA) juga memiliki sejumlah kekurangan atau kelemahan, yaitu sebagai berikut.
  • Dapat menyebabkan manajemen perusahaan enggan untuk menambah jumlah aset, terlebih jika nilai return on asset (ROA) dinyatakan terlalu besar (tinggi). Padahal, nilai rasio ROA yang tinggi merupakan kesempatan untuk melakukan pengembangan bisnis (ekspansi).
  • Manajemen perusahaan berpotensi lebih berfokus pada tujuan yang bersifat jangka pendek, sehingga dapat mengabaikan tujuan jangka panjang. Tentu saja, ini bisa berdampak negatif bagi perusahaan di masa depan.

Faktor yang Memengaruhi ROA (Return on Asset)

Seperti yang telah dijelaskan pada bagian pengertian return on asset (ROA)  bahwasannya rasio ini termasuk ke dalam rasio profitabilitas.

Seperti yang diketahui, profitabilitas adalah suatu rasio yang digunakan sebagai alat analisis untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba.

Ada dua rasio profitabilitas yang paling umum digunakan sebagai alat analisis dalam suatu penelitian manajemen keuangan, yaitu return on equity (ROE) dan return on asset (ROA).Nah, jika Anda bertanya apa saja faktor-faktor yang memengaruhi return on asset (ROA), maka ada beberapa variabel yang dianggap berpengaruh terhadap ROA.
  1. Rasio aktivitas (activity ratios), yang terdiri dari rasio perputaran kas (cash turnover), rasio perputaran piutang (receivable turnover), dan rasio perputaran persediaan (inventory turnover).
  2. Rasio utang (leverage ratios), yang terdiri dari debt to equity ratio (DER), debt to asset ratio (DAR), dan time interest earned ratio (TIE).
  3. Rasio likuiditas (liquidity ratios), yang terdiri dari rasio lancar (current ratio) dan rasio cepat (quick ratio).

Jadi, sebenarnya, banyak variabel yang dapat dijadikan sebagai faktor yang memengaruhi ROA (return on asset). 

Namun, untuk membuktikan kebenarannya, maka Anda bisa melanjutkan dengan melakukan penelitian ilmiah. Dengan demikian, barulah Anda bisa mengambil kesimpulan variabel atau faktor apa saja yang memengaruhi ROA.

Jadi, Anda tidak bisa hanya membenarkan asumsi-asumsi atau hipotesis saja, Anda mesti melanjutkan dan membuktikan kebenaran hipotesis tersebut.

Satu-satunya cara untuk membuktikan hipotesis tersebut adalah dengan melakukan penelitian ilmiah. Di sanalah Anda bisa menyimpulkan variabel atau apa saja faktor-faktor yang memengaruhi return on asset (ROA).

Perhitungan dan Contoh Soal ROA (Return on Asset)

Berikut ini tim edusaham berikan contoh soal ROA (return on asset) beserta jawaban dan contoh perhitungannya, sebagai berikut.

Contoh soal:
Berdasarkan laporan keuangan tahunan (annual report) tahun 2018, diketahui laba bersih (laba tahun berjalan) PT ABC Tbk adalah Rp 1,5 triliun dan total aset sebesar Rp 30 triliun. Berapakah nilai rasio return on asset (ROA) PT ABC Tbk?

Jawaban:
ROA = (laba tahun berjalan / total aset) x 100%
ROA = (Rp 1,5 triliun / Rp 30 triliun) x 100%
ROA = 5%

Dengan demikian, maka nilai rasio return on asset (ROA) perusahaan PT ABC Tbk adalah sebesar 5%.

Berapa Nilai Return on Asset (ROA) yang Baik dan Ideal?

Banyak yang bertanya-tanya, berapa nilai return on asset yang baik dan ideal? Sebenarnya, tidak ada ketentuan pasti mengenai nilai ROA yang baik.

Namun, intinya, semakin besar rasio ROA suatu perusahaan, maka semakin baik. Setiap investor pasti memiliki pandangan yang berbeda mengenai nilai rasio ROA perusahaan. Ada yang menganggap perusahaan yang baik memiliki nilai ROA minimal 20%, ada juga yang mengatakan 25%, dan di atasnya.

Tentu saja, akan sulit menemukan perusahaan yang memiliki nilai return on asset (ROA) yang besar, apalagi harus konsisten setiap tahunnya. Untuk lebih sederhana dalam memilih perusahaan dengan nilai ROA terbaik, maka Anda bisa membandingkan nilai ROA setiap perusahaan di sektor industri yang sama.

Misalnya, Anda pengin tahu perusahaan mana yang memiliki ROA tertinggi di sektor pertambangan, maka bandingkanlah nilai ROA masing-masing perusahaan tersebut, minimal lima (5) tahun terakhir. Lakukan hal yang sama jika Anda ingin menganalisis perusahaan dengan rasio return on asset terbaik di sektor lainnya.

Setelah Anda menemukan satu atau beberapa perusahaan yang memiliki nilai return on asset terbaik, maka Anda bisa melanjutkan dengan melihat variabel atau rasio keuangan lainnya.

Ingat, jangan hanya menggunakan satu variabel saja dalam mengambil keputusan investasi. Semakin banyak variabel yang dipakai, maka semakin baik pertimbangan yang Anda miliki.

Penyebab ROA Menurun

Ketika Anda melakukan analisis return on asset (ROA) suatu perusahaan, pasti Anda akan menemukan kenapa ROA perusahaan mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Anda juga akan menemukan di mana nilai ROA perusahaan mengalami fluktuasi, kadang naik dan kadang turun. 

Dengan kata lain, tidak konsisten meningkat setiap tahun. Kenapa ini terjadi? Apa yang menjadi penyebab ROA menurun?

Mungkin, inilah yang menjadi pertanyaan Anda semua. Sebenarnya, jika dijelaskan mengenai penyebab ROA menurun, maka akan sangat panjang penjelasannya. 

Namun, secara singkat, nilai return on asset yang menurun mengindikasikan adanya faktor-faktor yang memengaruhi ROA, persis seperti yang dijelaskan di bab sebelumnya. Ya, tentu saja ada hal-hal yang menyebabkan penurunan ROA.

Jika ditarik secara garis besar, maka ada dua faktor yang menjadi penyebab ROA menurun. Pertama, faktor yang berasal dari internal perusahaan, dan yang kedua berasal dari eksternal perusahaan.

Apa contohnya? Dari internal perusahaan, return on asset menurun karena juga terjadi penurunan pada kinerja perusahaan. Sesederhana itu? Ya, jelas, kinerja perusahaan yang menurun akan mengakibatkan kemampuan perusahaan meraih laba juga menurun.

Dari eksternal perusahaan, maka penyebab ROA menurun bisa dipengaruhi oleh perekonomian nasional yang sedang bergejolak, kebijakan pemerintah yang tidak suportif, nilai tukar rupiah melemah, terjadi inflasi, dan sebagainya. Biasanya, faktor eksternal ini memang sulit dikendalikan oleh perusahaan.

Sampai di sini dahulu pembahasan dari tim edusaham mengenai pengertian return on asset (ROA), rumus ROA, fungsi ROA, kelebihan dan kekurangan ROA, faktor yang memengaruhi ROA, penyebab ROA menurun, hingga penjelasan mengenai nilai ROA yang baik dan ideal.

Nah, bagi Anda yang mungkin seorang investor, Anda bisa menjadikan rasio ini sebagai salah satu variabel untuk mengambil keputusan investasi. Bagi Anda yang mungkin sedang melakukan penelitian, semoga penjelasan dari tim edusaham ini bisa bermanfaat. Terus ikuti artikel kami dan bantu share setiap artikel yang kami terbitkan, ya.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pengertian Return on Asset (ROA): Rumus, Fungsi, dan Contoh Soal"

Post a Comment