Laporan Keuangan + Rasio Keuangan Bank Syariah (2013 - 2017)

Pengertian Pasiva, Komponen Pasiva, dan Jenis Pasiva

Pengertian Pasiva, Komponen Pasiva, dan Jenis Pasiva

EDUSAHAM.COM --- Setelah sebelumnya tim edusaham membahas tentang pengertian aktiva beserta jenis dan contohnya, sekarang kami akan membahas sesuatu yang berlawanan dengan aktiva, yaitu pasiva. Apa saja materi pasiva yang disajikan di sini? Mulai dari pengertian pasiva, komponen pasiva perusahaan (bank dan non bank), jenis atau pengelompokkan pasiva, rumus pasiva, dan pengaruh nilai pasiva dalam keputusan investasi. Oleh karena itu, simak artikel ini dengan baik, ya.

Definisi Pasiva

Apa itu pasiva? Dalam akuntansi, pengertian pasiva adalah suatu pengorbanan secara ekonomi yang dilakukan oleh suatu perusahaan (entitas bisnis) dalam rangka menunjang kegiatan bisnis. Dengan kata lain, pengorbanan ekonomi ini diharapkan akan menghasilkan value di masa depan.

Komponen Pasiva

Di dalam neraca keuangan, ada dua sisi yang tergambar secara garis besar, yaitu aktiva (aset) dan pasiva. Nah, komponen dari pasiva yaitu terdiri dari Utang (Liabilities) dan Modal (Equity). Komponen pasiva ini berlaku untuk semua jenis perusahaan, baik bank maupun non bank.

Jenis dan Pengelompokkan Pasiva

Setelah memahami pengertian pasiva dan komponen pasiva, maka berikut ini kami akan menjelaskan bagaimana pengelompokkan pasiva tersebut dan apa saja jenis-jenisnya.

1. Utang (Liabilities)
Inilah komponen pasiva yang  pertama. Apa itu utang? Secara sederhana, utang adalah segala hal yang menjadi kewajiban bayar bagi perusahaan kepada pihak lain atas transaksi yang terjadi di masa lalu. Nah, secara umum, utang (liabilities) terdiri dari beberapa jenis, yaitu utang jangka pendek atau disebut juga utang lancar dan utang jangka panjang.

a. Utang Jangka Pendek/Lancar (Current Liabilities)
Pengertian utang lancar adalah jenis utang yang harus dibayar dalam jangka waktu dekat atau sesegera mungkin, biasanya pembayaran dilakukan dalam periode kurang dari satu tahun. Nah, utang jangka pendek terdiri dari berbagai jenis akun, yaitu sebagai berikut.
  • Utang Dagang (Account Payable), yaitu utang yang muncul akibat adanya pembelian barang (baca: bahan baku) atau sejenisnya kepada pemasok (supplier) dalam rangka menunjang kegiatan operasional.

  • Utang Gaji (Salaries Payable), yaitu suatu kewajiban yang harus dibayarkan oleh perusahaan kepada sejumlah karyawan atas hak yang seharusnya mereka terima.

  • Utang Wesel (Notes Payable), yaitu suatu bentuk surat perintah yang mana perusahaan wajib membayar sejumlah uang atas pinjaman kepada pihak yang memberikan pinjaman. Umumnya, pembayaran terjadi dalam jangka waktu 30, 60, atau 90 hari.

  • Utang Dividen (Devidend Payable), yaitu bagian dari laba perusahaan yang kemudian diberikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen, namun proses pembayaran tersebut belum juga dilakukan saat neraca keuangan telah disusun.

  • Utang Pajak (Tax Payable), yaitu suatu kewajiban yang harus dibayarkan oleh perusahaan atas pajak dari aset yang dimilikinya.

  • Beban Yang Masih Harus Dibayar atau (Accrued Interest Payable), yaitu suatu biaya yang masih belum dilunasi oleh perusahaan dalam periode akuntansi, sebagai contoh: biaya sewa, upah, gaji, dan biaya yang lain.

  • Penghasilan Yang Ditangguhkan atau (Differed Revenue), yaitu penghasilan yang belum seutuhnya menjadi hak perusahaan. Dengan kata lain, masih ditunda.

  • Pendapatan Diterima Di Muka atau (Unearned Revenue), yaitu bentuk kewajiban yang muncul akibat penerimaan pembayaran sebelum kewajiban atas barang/jasa direalisasikan.

b. Utang Jangka Panjang (Long-Term Liabilities)
Pengertian utang jangka panjang adalah jenis utang yang harus dibayar perusahaan dalam jangka waktu yang relatif lama, biasanya pembayaran dilakukan dalam periode lebih dari satu tahun. Nah, utang jangka panjang juga terdiri dari berbagai jenis akun, sebagai berikut.
  • Utang Bank (Bank Loan), yaitu bentuk pinjaman modal kerja yang dilakukan oleh perusahaan terhadap bank. Biasanya, modal kerja ini digunakan dalam rangka pengembangan usaha (ekspansi) atau kepentingan strategis lainnya.

  • Utang Hipotek (Mortgages Payable), yaitu suatu jenis utang pinjaman bank yang menggunakan aset tetap perusahaan sebagai agunan.

  • Utang Obligasi (Bonds Payable), yaitu kewajiban yang muncul karena perusahaan menerbitkan obligasi dan menjualnya. Apa itu obligasi? Penjelasan lengkap bisa baca di artikel ini: Penjelasan Lengkap Obligasi

  • Kredit Noveltasi (Long-Term Loan), yaitu pinjaman jangka panjang yang didapatkan dari lembaga keuangan baik lembaga keuangan bank (LKB) maupun lembaga keuangan bukan bank (LKBB).

  • Utang Suberdiresi (Suberdinated Loan), yaitu suatu kewajiban dari para pemegang saham perusahaan induk yang bersifat tanpa bunga.

  • Utang Sewa Dana (Payable Leasme), yaitu utang yang didapatkan dari perusahaan asing atas pembelian berupa aset tetap yang biasanya dilakukan dalam bentuk cicilan (kredit) dan rentang waktu yang relatif panjang.

  • Utang Pemegang Saham (Holding Company Loan), yaitu suatu kewajiban yang pada umumnya diberikan oleh induk perusahaan kepada anak perusahaan (baca: perusahaan afiliasi) untuk kepentingan operasional perusahaan afiliasi tersebut.

  • Utang Sewa Jangka Panjang (Long Termen Lent Liabilities), yaitu jenis utang perusahaan yang masih harus dibayar kepada pihak peminjam dalam tempo atau jangka waktu yang relatif lama.

2. Modal (Equity)
Inilah komponen pasiva selanjutnya. Apa yang dimaksud dengan modal? Secara umum, modal (equity) adalah sumber daya ekonomi internal perusahaan yang dijadikan sebagai bekal atau dasar untuk meningkatkan kekayaan. Modal atau capital ini juga menjadi cerminan seberapa besar kekayaan perusahaan dalam melakukan kegiatan bisnis. Di dalam neraca keuangan, modal bisa diperoleh dari hasil pengurangan antara aktiva (aset) dan utang.
Modal = Aset - Utang

Pasiva dan Pengaruhnya dalam Keputusan Investasi

Setelah Anda memahami pengertian pasiva, komponen, jenis & pengelompokkan, lalu apa pengaruh pasiva terhadap keputusan investasi yang dilakukan oleh investor? Dalam sudut pandang investor, pasiva bisa mencerminkan seberapa besar penggunaan utang dari perusahaan terhadap modal yang dimiliki.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa untuk mendapatkan nilai pasiva, maka perlu dilakukan penjulamlahan antara utang dan modal. Di sinilah tampak jelas berapa porsi modal perusahaan dan berapa porsi utang. Banyak perusahaan yang porsi utangnya lebih besar dari modal yang dimiliki.

Tentu saja, ini menjadi pertimbangan bagi investor apa alasan perusahaan menggunakan utang yang begitu besar dan seberapa kemampuan dalam menciptakan laba dari kegiatan pinjaman (utang) tersebut.

Umumnya, investor akan melihat dari rasio DER (Debt to Equity Ratio) untuk menilai seberapa besar penggunaan utang perusahaan terhadap modal. Perusahaan (emiten) dengan rasio DER yang tinggi, katakanlah di atas 1%, maka itu mencerminkan bahwa utang perusahaan lebih besar dari modal yang dimilikinya.

Investor tentu akan berpikir kembali untuk berinvestasi di perusahaan dengan nilai DER yang besar. Kenapa? Karena ada kewajiban yang mesti dibayar oleh perusahaan dan ini dianggap berdampak pada pembayaran dividen nantinya.

Logika sederhananya seperti ini, anggaplah laba kotor perusahaan Rp 1,5 miliar dan utang Rp 500 juta, maka laba bersih perusahaan Rp 1 miliar.

Perusahaan telah menentukan sebelumnya bahwa 50% dari laba bersih akan dibayarkan kepada investor dan pemegang saham dalam bentuk dividen. Dengan kata lain, jatah investor dan pemegang saham dari laba bersih tersebut sebesar Rp 500 juta yang kemudian dibagikan sesuai dengan porsi kepemilikan saham masing-masing.

Coba Anda bayangkan utang perusahaan lebih kecil, anggaplah Rp 100 juta. Tentu saja, porsi laba yang dibagikan perusahaan kepada investor dan pemegang saham bisa lebih besar.

Well, itulah pembahasan atau materi tentang pasiva, mulai dari pengertian pasiva, komponen, jenis, dan seterusnya. Semoga informasi ini ada manfaatnya dan bisa menambah ilmu serta wawasan Anda semua. Terima kasih dan bantu share, ya.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pengertian Pasiva, Komponen Pasiva, dan Jenis Pasiva"

Post a Comment