Mengenal Avalanche (AVAX) untuk Pemula 2022

Saat ini popularitas cryptocurrency atau aset kripto semakin meningkat. Kondisi ini kemudian memicu adanya kompetisi ketat untuk menghadirkan blockchain yang memiliki fitur terbaik. Banyak proyek dan platform bermunculan dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu contohnya yakni proyek crypto Avalanche atau AVAX.

Avalanche merupakan sebuah platform open source untuk DApps atau aplikasi terdesentralisasi dengan fokus DeFi atau decentralized finance. Developer dari proyek ini memiliki tujuan mengarahkan pasar ke sebuah sistem finansial yang terdesentralisasi. Manfaatnya, agar bisa membangun fondasi baru tanpa menggunakan sistem keuangan terpusat seperti bank karena dianggap kurang efisien.

Ulasan tentang aset kripto Avalanche ini akan memberikan sebuah gambaran lengkap tentang detail proyek yang dijalankan. Selain itu Anda juga akan mendapatkan informasi lengkap mengenai prospek AVAX di masa depan dalam jangka waktu panjang dan prediksi harganya.

Apa Itu Crypto Avalanche?

Avalanche merupakan proyek yang akan membantu setiap orang agar bisa menghasilkan dApps dan blockchain yang multifungsi. Platform ini merupakan hasil rancangan dari Ava Labs dan bertujuan meminimalkan batasan dari sejumlah blockchain lama. Keterbatasan yang dimaksud seperti kendala skalabilitas, kecepatan transaksi yang kurang optimal, dan sentralisasi.

Protokol konsensus dari Avalanche yang asli akan menghadirkan throughput yang tinggi, latensi lebih rendah, serta ketahanan jauh lebih kuat.

Avalanche mainnet resmi dirilis pada bulan September 2020 lalu. Pihak developer berhasil meraup $42 juta dalam waktu 2 bulan dari penjualan token aslinya. Hanya kurang dari 5 jam, ada 72 juta token Avanche yang berhasil terjual. Ini menjadi bukti bahwa para investor memiliki antusias begitu tinggi dan mereka berasal dari 100 negara berbeda tersebar di seluruh dunia.

Fakta ini menjadi indikasi bahwa Avalanche akan menjadi sebuah proyek crypto yang sangat populer. Proyek ini juga dinilai sangat menjanjikan di masa depan apalagi untuk investasi jangka panjang. Menurut John Wu (Presiden Ava Labs), keberhasilan dan kecepatan penjualan aset kripto ini merupakan sebuah bukti kualitas dan akan memberi dampak pada keuangan institusional dan terdesentralisasi.

Sebagian besar aset kripto yang lain, seperti Bitcoin (BTC) biasanya akan sangat bergantung pada adanya konsensus mekanisme PoW atau Proof of Work yang dinilai tidak efisien. Ini disebabkan oleh PoW butuh waktu konfirmasi yang jauh lebih panjang agar bisa menghasilkan blockchain baru dari para developers.

Di sisi lain, Avalanche merupakan jaringan heterogen dengan beberapa set validator dan blockchain yang menawarkan standar keamanan seperti Bitcoin dan Ethereum. Hanya saja aset kripto ini bisa menjangkau waktu yang lebih singkat.

Tujuan utama Avalanche network adalah mengambil pran tradisional Wall Street. Secara spesifik untuk menjalankan perannya dalam membangun fondasi finansial terbaru. Bisa dikatakan pula bahwa Avalanche ini akan menawarkan platform baru yang lebih aman dan terukur.

Apa Itu AVAX?

AVAX merupakan token asli dari Avalanche yang akan mengamankan jaringan lewat mekanisme staking atau PoS  (proof of stake). Pemilik token AVAX ini dapat memakainya untuk melakukan pembayaran biaya dan transaksi peer to peer atau P2P. Permintaan AVAX diketahui datang dari sumber yang berbeda-beda dan tujuan pemakaiannya juga bervariasi, yaitu:

  • Melakukan transfer nilai pada skala dan kecepatan.
  • Menghasilkan pendapatan pasif melalui staking atau dengan menyediakan validator.
  • Memungknkan pembiayaan terbuka untuk aset stablecoin (AVAX dibutuhkan dalam pembuatan sub-jaringan serta aset digital).

Validator tidak akan kehilangan token AVAX sebagai aset yang dipertaruhkan. Hal ini disebabkan oleh AVAX tidak mengambil peran sebagai jaminan atau collateral. Jadi, dalam kondisi seperti ini validator memiliki risiko kehilangan uang dalam jumlah kecil. Inilah poin yang akan memberikan perbedaan mendasar antara AVAX dengan Ethereum maupun jenis kripto lainnya.

Jaringan Avalanche juga mendukung adanya partisipasi dan bisa memungkinkan adanya penggabungan prediktabilitas dalam proses staking. AVAX juga dapat dimanfaatkan untuk melunasi biaya jaringan.

Sama halnya dengan konsensus Nakamoto, token AVAX tidak masuk ke validator atau penambang. AVAX akan dibakar atau burn, tujuannya untuk memastikan semua ekosistem (bukan hanya segelintir pemain) diuntungkan.

Sejarah Avalanche (AVAX)?

Token Avalanche atau AVAX diciptakan oleh Ava Labs. Namun untuk jaringan Avalanche dan protokol konsensusnya dibuat oleh pihak lain yaitu Team Rocket. Pemisahan tim ini dilakukan untuk mewujudkan revolusi protokol konsensus klasik dan konsensus Nakamoto.

Ava Labs itu sendiri dibentuk oleh seorang profesor di Cornell University bernama Emin Gun Sirer. Ia membentuk tim bersama dua orang teman yang ahli di bidang komputer. Dua orang tersebut memiliki gelar PhD bernama Maofan “Ted” Yin dan Kevin Sekniqi. Sirer juga memiliki gelar PhD dari Universitas Princeton dan mahir di bidang teknik komputer.

Sirer mulai berkecimpung di bidang cryptocurrency pada tahun 2002-2003. Pada saat itu ia memulai dengan membuat mata uang virtual P2P atau peer-to-peer bernama Karma. Ia menggandeng Vivek Vishnumurthy dan Sangeeth Chandrakumar untuk mengerjakan proyek tersebut. Terhitung Karma ini diciptakan 6 tahun sebelum Bitcoin dirilis ke publik.

Tidak sama dengan Bitcoin, Karma memiliki penggabungan protokol konsensus dengan pencetakan pasokan baru. Sayangnya Karma ini dirilis ke publik di waktu yang tidak tepat. Pada saat itu telah terjadi peristiwa 9/11 dimana pendanaan cukup langkah dan ada masalah keamanan mengenai mata uang virtual P2P Karma.

Pada tahun 2017, Sirer mendapati desentralisasi Bitcoin dan Ethereum di pasar kripto memanas. Ia kemudian melakukan penelitian dan pada tahun 2018, Sirer mencatat bahwa dibutuhkan langkah desentralisasi protokol konsensus dalam hal ini.

Sirer kemudian mempresentasikan hasil makalahnya tersebut pada tahun yang sama di Genesis London Conference. Di saat inilah ia juga mulai bergerak membuat Avalanche. Mulanya, Avalanche merupakan sebuah proyek kripto yang dikenal juga dengan nama Blockchain 3.0. Avalanche dinilai memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan. Apabila semua rencana berjalan baik, maka Avalanche bisa melejit di tahun 2022 ke atas.

Bagaimana Cara Kerja Avalanche?

Mari cari tahu bagaimana cara kerja Avalanche ini. Mekanisme kerjanya tidak bisa dipandang sama dengan blockchain dan platform serupa. Avalanche memiliki 3 blockchain yang dapat dioperasikan yaitu Exchange Chain (X-Chain), Platform Chain (P-Chain), dan Contract Chain (C-Chain).

X-Chain akan digunakan untuk membantu perdagangan aset kripto yang baru. Sementara itu C-Chain merupakan implementasi mesin virtual Ethereum dari Avalanche. Hal ini akan membantu pembuatan smart contract. Kemudian ada P-Chain yang dipakai melacak dan membuat subnet serta melakukan koordinasi validator.

Penting juga untuk diketahui bahwa mekanisme Snowman akan mengamankan P-Chain dan C-Chain. Sistem ini kemudian menghasilkan smart contract yang memiliki throughput tinggi. Di lain sisi, konsensus DAG-optimized Avalanche akan mengamankan X-Chain. Protokol konsensus dari Avalanche ini diketahui bisa menciptakan finalitas transaksi hanya dalam beberapa detik.

Arsitektur jaringan Avalanche ini memiliki tiga blockchain. Nantinya jaringan akan dioptimalkan dengan baik demi menjaga keamanan, kecepatan, dan memastikan fleksibilitasnya.

Dengan begitu, Avalanche akan menjadi sebuah platform yang memiliki kekuatan besar baik untuk penggunaan individu maupun perusahaan. Hal ini disebabkan oleh kemampuan developers membangun aplikasi berbeda.

Keunggulan Avalanche

Ada beberapa keunggulan yang dimiliki oleh Avalanche. Avalanche ini bisa menangani lebih banyak bentuk transaksi secara signifikan dan akurat dibandingkan jenis blockchain yang lain. Sebagai bukti, Avalanche telah menangani 4.500 transaksi per detik (TPS). Angka ini jauh lebih unggul jika dibandingkan dari 14 TPS untuk Ethereum, 1.500 TPS di Polkadot, dan 7 TPS untuk Bitcoin.

Kelebihan lain dari Avalanche adalah bisa mencapai finalitas transaksi dengan cepat, bahkan kurang dari dua detik. Ini menunjukkan bahwa skalabilitas untuk aplikasi terdesentralisasi secara optimal.

Avalanche tak hanya menjadi blockchain yang bisa diukur namun juga dapat dioperasikan. Dengan begitu bisa tercapai interoperabilitas setelah pengaktifan blockchain antara subnet dan di dalam subnet yang memberikan jalur komunikasi.

Dari penjelasan tadi bisa diketahui bahwa akan ada proses saling melengkapi atau transfer nilai lintas rantai (cross chain). Avalanche juga memiliki sifat lebih inklusif jika dibandingkan jenis blockchain yang lain. Siapa saja bisa memasang angka taruhan minimal 2000 AVAX dan bisa berpartisipasi dalam Avalanche ini.

Perlu diketahui bahwa Avalanche ini mendukung mesin virtual Ethereum. Ekosistem dari jaringan Avalanche sama sekali tidak menggunakan mekanisme konsensus jaringan Ethereum. Tak hanya itu, transfer nilai cross chain di Avalanche juga tidak memerlukan adanya perantara.

Arsitektur Avalanche

Avalanche ini menggunakan subnetwork atau subnet. Subnet itu sendiri merupakan seperangkat validator yang nantinya akan bekerja sama dalam mencapai sebuah konsensus. Satu subnet akan menyelesaikan proses validasi untuk setiap blockchain. Kemudian untuk sebuah node yang ada bisa dijadikan anggota dari beberapa subnet. Di dalam subnet, validator harus memenuhi beberapa syarat seperti:

  • Berlokasi di negara tertentu.
  • Lulus uji pemeriksaan KYC/AML.
  • Memiliki lisensi tertentu.

Arsitektur dari Avalanche ini mendukung subnet pribadi. Subnet ini hanya memungkinkan validator yang sudah ditentukan sebelumnya agar bisa bergabung. Jadi, konten blockchain bisa dilihat dengan jelas oleh validator yang terlibat. Subnet pribadi ini akan dinilai ideal bagi siapa saja termasuk organisasi yang memiliki keinginan untuk menjaga kerahasiaan data mereka.

Secara mudah bisa dipahami bahwa cara kerja dari arsitektur Avalanche ini berupa jaringan utama yang akan melakukan validasi blockchain bawaan. Kemudian, P-Chain akan melakukan koordinasi validator dan membuat subnet. P-Chain juga akan memakai protokol konsensus Snowman yang bisa memfasilitasi adanya smart contract.

Menurut protokol ini, C-Chain akan menciptakan sebuah aset kemudian menukarnya dan baru bisa menggunakan konsensus yang dimiliki. Di sisi lain C-Chain akan bertugas menjalankan kontrak EM atau Ethereum Virtual Machine secara eksekutif dan memakai protokol konsensus Snowman.

Mekanisme Konsensus Avalanche

Seperti apa mekanisme konsensus Avalanche? Protokol konsensus ini memiliki tiga mekanisme yang bisa mendukung struktural ke jaringan. Ini merupakan jenis protokol non-BFT (Slush) dan dibangun serta dikembangkan secara bertahap sampai Snowflake dan Snowball. Ini adalah jenis protokol konsensus atau sebuah keputusan yang berada di tingkat pertahanan tinggi. Semuanya berbasis pada pengambilan data secara umum.

Whitepaper dari Ava Labs menyatakan bahwa mekanisme konsensus ini terinspirasi dari algoritma gosip. Secara spesifik, nantinya sistem akan beroperasi berulang kali dengan cara mengambil sampel jaringan secara acak. Kemudian sistem juga akan mengarahkan node yang tepat agar bisa menuju hasil yang sama.

Jika ditelusuri lebih lanjut, pada algoritma gosip, node yang memiliki koneksi akan diambil secara acak agar bisa menerima informasi. Protokol konsensus Avalanche kemudian akan mendapatkan inspirasi dari algoritma ini karena menggunakan subsampel node.

Contohnya, terdapat sebuah jaringan dengan node yang harus memilih antara dua angka. Sebagai contoh ambil saja angka tersebut adalah tiga dan empat. Nantinya node dalam jaringan akan menyimpan dan memilih secara acak beberapa node.

Semua node yang sudah terpilih kemudian akan mengirimkan respon kembali. Lewat respon seperti ini, node yang pada awalnya mengajukan pertanyaan akan langsung mengetahui nomor mana yang akan dituju. Semua node pada akhirnya akan menjalani proses ini agar bisa mencapai konsensus jaringan. Apabila ada seri antara kedua opsi saat pemungutan suara maka akan ada putaran kedua pemungutan suara dengan ririko seri lebih rendah.

Dalam prinsip kerja ini, kita mengenal adanya metastability atau metastabilitas. Ini merupakan bukti bahwa jaringan akan mendarat di suatu pilihan yang sesuai. . Seluruh tujuan akan mencapai konsensus di dalam jaringan dan tujuannya adalah memastikan node setuju satu sama lain.

Ketika putaran untuk pemungutan suara berakhir maka jaringan akan mulai menentukan nomor akhir dengan cepat. Kondisi seperti ini disebut finalitas dan bagi Avalanche sendiri proses ini bisa berlangsung hanya dalam hitungan detik.

Avalanche Bridge Technology

Di awal tahun 2021 lalu, telah dirilis Avalanche Ethereum Bridge. Tak lama kemudian, para developers meluncurkan Avalanche Bridge yang ternyata begitu banyak diminati. Alanche Bridge ini ternyata lima kali lebih murah dan diketahui bisa meningkatkan interoperabilitas lintas-rantai.

Developer telah merancang teknologi Avalanche Bridge dengan sangat baik dan memiliki tujuan sebagai berikut:

  • Memastikan pengguna mendapatkan akses teknologi yang mudah.
  • Mempercepat Urusan Transaksi.
  • Memangkas biaya aset bridging.
  • Mempercepat kemungkinan transaksi.
  • Meningkatkan transparansi untuk setiap proses.
  • Mendukung ekosistem sehingga pengguna pun bisa memahami kemampuan dari ekosistem Avalanche,
  • Menjadi aset kripto yang intuitif sehingga pengguna dapat terus memahami cara dalam menggunakan bridge.

Kekurangan Avalanche

Di tengah banyaknya kelebihan dari Avalanche, ternyata ada juga beberapa kekurangannya. Salah satu bentuk kekurangan yang dimiliki oleh Avalanche adalah masalah desentralisasi. Saat itu Ava Labs memiliki 10% dari total pasokan. Jika perusahaan ingin mendistribusikan token AVAX, maka akan diperoleh desentralisasi dan tidak ada node yang punya lebih dari 1% jaringan.

Saat node dalam jaringan tidak setuju, maka protokol konsensus Avalanche tidak bisa bekerja secara efektif. Developer terus mencoba mengatasi masalah seperti ini yaitu lewat konsensus Frosty. Di sini developer berusaha untuk menciptakan leader note agar bisa meningkatkan kinerja saat ada pertentangan blok.

Meskipun punya keterbatasan, namun Avalanche diminati oleh banyak orang. Keterbatasan yang dimiliki oleh Avalanche tidak akan menjadi masalah besar karena pihak developers mengambil langkah yang aktif. Mereka akan terus berusaha untuk meningkatkan desentralisasi dan perhitungan skala pada blockchain Avalanche.

Cara Beli Koin Kripto Avalanche

Apakah Anda mulai merasa tertarik untuk membeli Avalanche? Berikut langsung saja eksekusi tanpa perlu menunggu lebih lama lagi untuk melakukan pembelian. Inilah dia beberapa cara yang bisa diterapkan untuk membeli Avalanche:

1. Tentukan Pilihan Broker Crypto Terbaik

Langkah pertama adalah menentukan pilihan broker terlebih dahulu. Broker crypto merupakan perusahaan crypto exchanges dan broker multiaset. Crypto exchanges itu sendiri akan melayani perdagangan khusus untuk aset kripto. Sementara itu broker multiaset akan menjadi platform perdagangan berbagai jenis aset seperti kripto, saham, komoditas, emas, dan lain sebagainya.

Ada banyak contoh crypto exchanges yang ada di dunia ini. Beberapa di antaranya adalah Binance, Coinbase, Krake, Huobi, dan lain-lain. Untuk crypto exchanges lokal asal Indonesia ada Luno, Pintu, Rekeningku, Indodax, Tokocrypto, dan Zipmex yang semuanya ini sudah terdaftar OJK.

Lalu bagaimana dengan broker multiaset? Ada beberapa nama yang bisa dijadikan pilihan seperti eToro dan Capital.com. Keduanya sudah terdaftar secara resmi dan memberi kemudahan akses bagi investor asal Indonesia.

2. Lakukan Registrasi

Langkah selanjutnya silakan registrasi akun dulu agar bisa melakukan pembelian aset. Anda perlu mendaftar di exchange atau broker crypto terbaik yang sudah dipilih. Dalam pembahasan ini akan diambil pilihan broker crypto Capital.com. Supaya lebih yakin dengan broker ini, simak dulu identitas lengkapnya:

  • Jenis: broker multiaset dan CFD.
  • Berdiri: 2016.
  • Instrumen: Aset kripto, saham, CFDs, komoditas, indeks, dan saham.
  • Regulasi: FCA (United Kingdom), NBRB (Belarusia), CySec (Siprus), dan ASIC (Australia).
  • Deposit minimal: $20 atau Rp300 ribuan.
  • Jumlah pengguna: jutaan investor dan trader dari berbagai negara.
  • Akses platform: website dan aplikasi mobile.
  • Penghargaan: Most Innovative Tech 2021 by Tradingview, Overall Client Satisfication, mobile app/platform, and education materials by Investment Trends.

Langsung saja ikuti langkah-langkah berikut ini untuk registrasi akun di Capital.com:

  • Aktifkan VPN, bisa juga direkomendasikan memakai DNS Cloudflare. Untuk mengaktifkan DNS Cloudflare ini bisa langsung pilih ke control panel > pilih view network status and tasks > klik connections > pilih properties > pilih internet protocol version 4 (TCP/IPv4) > pilih properties > pilih use the following DNS server addresses > isi 1.1.1.1 di bagian preferred DNS server > pilih OK.
  • Masuk ke website Capital. Klik di Sini
  • Masukkan email dan kata sandi kemudian klik opsi Daftar.
  • Lakukan verifikasi melalui pesan yang diterima di email.
  • Upload dokumen identitas berupa KTP dan foto selfie.

3. Bayar Setoran Deposit

Jika sudah berhasil mendaftar, maka langsung saja lakukan pembayaran deposit. Berikut adalah langkah-langkah deposit di Capital.com:

  • Login menggunakan akun yang sudah didaftarkan.
  • Pilih menu Setoran atau pilih opsi ‘setorkan dana ke akun’.
  • Tentukan pilihan metode pembayaran deposit, dalam hal ini via online banking.
  • Isi jumlah uang yang akan didepositkan, minimal $20.
  • Klik lanjutkan dan pada halaman Global Payment Solution Anda bisa klik sesuai metode pembayaran yang diinginkan. Di sini kita coba pilih CIMB Niaga.
  • Muncul halaman IDR Deposit Virtual Account yang akan mencantumkan informasi lengkap pembayaran deposit.
  • Lakukan pembayaran sesuai metode yang dipilih tadi. Pastikan melakukan trasnfer dengan jumlah yang tertera, setelah dikonversi ke rupiah, di sini sebagai contoh $20 setara dengan IDR 306.436.
  • Lakukan konfirmasi pembayaran dengan klik “Saya sudah bayar”.
  • Cek apakah deposit sudah masuk atau belum. Biasanya dalam lima menit dana sudah masuk.

4. Lakukan Transaksi

Ini adalah langkah terakhir pembelian aset kripto Avalanche. Berikut adalah langkah-langkah pembelian yang bisa Anda lakukan:

  • Login dengan akun yang dimiliki.
  • Pilih menu perdagangan.
  • Temukan aset kripto yang akan dibeli yaitu Avalanche/USD.
  • Setelah muncul kripto yang akan dibeli kemudian klik opsi Beli.
  • Isikan berapa banyak koin Avalanche yang akan dibeli.
  • Lakukan konfirmasi dengan klik menu Beli.

Beli AVAX di Capital

Pandangan Akhir

Avalanche merupakan sebuah proyek kripto yang cukup hit dan punya potensi tinggi. Proyek ini memiliki utilitas berupa kontrak pintar dan finalitas transaksi hanya dalam hitungan detik. Walau masih dianggap baru, namun Avalanche ini dianggap sebagai salah satu proyek DeFi terbaik dan sudah berkembang pesat melalui beragam fitur terbaru mereka.

Direncanakan Avalanche akan membawa Apricot Upgrade yang bisa menyelesaikan berbagai masalah jaringan. Misalnya saja pemangkasan yang dapat didiversifikasi. Hal ini akan membuat node online dalam waktu singkat.

Penting untuk dicatat bahwa semua fitur dan peningkatan yang dihadirkan di sini tidak akan bermanfaat jika pesertanya tidak bertahan secara optimal. Jadi memang proyek kripto ini lebih disarankan kepada orang-orang yang berinvestasi dengan jangka panjang.

Di sisi lain AVAX adalah token atau koin kripto yang sangat layak dijadikan pilihan instrumen investasi jangka panjang. Ini bukan hal aneh karena pergerakan harga AVAX memang cukup tinggi. AVAX saat ini juga masih mencoba keras agar bisa masuk Top 10 segi nilai kapitalisasi pasar.

HTML Snippets Powered By : XYZScripts.com